Saturday, October 29, 2016

2 Dokter yang menangani operasi Humaida akan dipanggil oleh IDI

    

Tim investigasi Kalimantan Timur sudah dipersiapkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
terkait kasus kelumpuhan yang dialami warga Kabupaten Paser,Humaida (46) selama 5 tahun 7 bulan
Setelah dua dokter ahli di sebuah klinik di Paser,tahun 2011 lalu.

Kelumpuhan Humaida akhirnya diketahui publik,setelah keluarganya buka suara ke media,lantaran tidak ada itikad baik dari petugas medis kala itu sampai saat ini,yang menjelaskan penyebab kelumpuhan humaida,pascaoperasi sterilisasi alat KB hingga menyebabkan Humaida cedera syaraf otak.

"Saya sendiri yang menerima laporan anak Ibu Humaida. Jadi menindaklanjuti itu, kami berencana segera memanggil dua dokter, yang menurut keluarga melakukan tindakan kepada pasien Ibu Humaida," kata Ketua IDI Kalimantan Timur, dr Nathaniel Tandirogang kepada wartawan di Samarinda, Sabtu (29/10).

Dalam laporannya,ada dua dokter yang menangani pasien di klinik tahun 2011 lalu,yaitu Dokter Ahli Genekologi dan Dokter Kebinanan dan Anastesi.

"Kita meminta keterangan, verifikasi kira kira bagaimana atau tindakan apa yang sudah diambil sebagai dokter kepada pasien dalam hal ini ibunya," ujar Daniel.

"Langkah awal, saya sudah tanyakan ke dokter bersangkutan. Kata dokternya saat itu, diambil tindakan operasi mensterilkan. Tindakan itu adalah tubektomi KB permanen," sebutnya.

"Tubektomi itu ada syarat-syaratnya dan itu tentu dengan persetujuan suami baru bisa dilakukan anastesinya. Selama ini pasien ditangani prosedural. Bahkan setelah slesai operasi, kondisi baik," tambah Nathaniel.

Namun demikian memang beberapa jam usai operasi, Humaida mengalami penurunan kondisi fisik.

"Setelah dua jam pascaoperasi, baik tapi dokter dapat panggilan dari klinik bahwa pasien drop. Dokter datang, pasien dalam kondisi kritis. Bahwa sempat diberikan pertolongan pertama, akhirnya bisa bernapas lagi setelah sempat kehilangan napas," ungkap Nathaniel.

"Selanjutnya diambil tindakan di ICU (RSUD Panglima Sebaya Paser) dan beberapa hari kemudian, dirujuk ke RSUD Kanujoso Balikpapan. Setelah itu mungkin stabil, karena saya belum lihat langsung pasien. Mungkin permintaan keluarga dirujuk kembali ke Paser. Di sana ditangani sampai saat ini ditangani dengan baik," jelasnya.

Masih disampaikan Nathaniel, Humaida, kini ditangani tim dokter gabungan RSUD di Paser. Namun demikian, belum diketahui penyebab pasti hingga Humaida mengalami kelumpuhan.

"Ada kolaborasi dokter syaraf, dokter penyakit dalam, dan dokter anastesi. Diagnosa awal, akhirnya pasien bisa merespons diberi rangsangan cuma gerakannya kaku. Tim dokter di sana sementara merencanakan upaya memperbaiki otak dan jaringan sel otak. Rencana pekan depan dilakukan penanganan lanjutan."

"Diharapkan kekakuan itu bisa menjadi baik dengan pemberian obat. Obat itu sebenarnya diberikan kepada pasien parkinson. Tapi ini diberikan karena kondisi pasien kaku ya, sehingga nanti diharap tidak kaku lagi," demikian Nathaniel.

Diketahui, Humaida mengalami kelumpuhan sejak 2011 lalu pascakelahiran anak kelimanya, di klinik milik DPD Muhammadiyah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Padahal, empat anak yang dilahirkan sebelumnya tidak menemui masalah. Pihak keluarga memilih menahan diri untuk tidak bersuara ke publik bertahun-tahun, lantaran masih bersabar.

Pengobatan Humaida pun telah menghabiskan segala sumber dana, sehingga Humaida masuk perawatan medis berdasarkan surat keterangan tidak mampu (SKTM). Akhirnya, di antaranya melalui anak Humaida, Januar As Ari, berjuang mencari keadilan dan kejelasan penyebab ibunya jatuh lumpuh bertahun-tahun. Muncul rencana keluarga untuk mengakhiri ujian ini dengan cara suntik mati Humaida, yang akan diajukan ke Mahkamah Agung.


No comments:

Post a Comment